COKLAT RETRO INSIDE : BENGKEL KAYU CIKAL

Siapa bilang dunia kustom hanya terpatok pada otomotif dan gaya berpakaian? Dudut, seorang pengrajin kayu yang juga merupakan seorang pecinta motor klasik ini telah lama mengaplikasikan “kustom”-nya ke media kayu. Bengkel Kayu Cikal milik Dududt ini telah berdiri dari tahun 2009. Nama “Cikal” sendiri diambil dari nama anak pertamanya, yang juga memiliki arti “awal”. Bengkel yang spesialisasinya adalah furniture kayu custom ini berlokasi di Jl. Dago Pakar no. 10, Bandung. Dudut yang pada awalnya berkecimpung di dunia perhotelan, mendapatkan pesanan untuk membuat interior cafe. Dari situlah ia terus merasa terpanggil dan terus mengembangkan passion-nya dalam ranah perkayuan. Dudut mempelajari semuanya secara otodidak, mulai dari penggunaan tools dan teknis mengolah kayu. Dudut juga sangat gemar memperluas referensi gaya desain interior seperti scandinavian, etnik, industrial, dan lain-lain, agar bisa memenuhi permintaan kustom yang beragam.

Semua karya Bengkel Kayu Cikal merupakan made by order alias kustom. Beberapa karya buatan Dudut adalah cafe Little Subway, Tubiz Cafe, dinding hexagonal Sobbers, kursi-kursi besar di lantai dua Lawang Wangi, dan masih banyak lagi. Dudut juga pernah membuat pesanan peti mati, dan coffee table ala industrial yang menggunakan material besi. Oh, dan Dudut juga merupakan orang di balik pembuatan interior mini-trailer Coklat Retro, brads. Sejauh ini, Dudut memiliki 1-2 pekerja harian. Untuk proyek yang lebih besar, Dudut biasanya mengambil para pengrajin lepas. 

Proses pembuatan satu furniture biasanya diawali dengan perancangan konsep sesuai keinginan konsumen. Konsumen biasanya sudah membawa referensi dalam bentuk foto tentang furniture atau item yang mereka inginkan, kemudian diracik dan diaplikasikan oleh Dudut sesuai kebutuhan. Setelah konsep, masuk ke tahap pemilihan kayu. Salah satu jenis kayu yang menjadi favorit Dudut adalah jenis cemara batik dengan motifnya yang khas, dan termasuk jenis kayu yang langka. Setelah pemilihan kayu, masuklah ke proses perakitan dan pengolahan bentuk. Yang terakhir yaitu proses finishing dan produk pun siap diserahkan kepada pemesan. Dalam tahap finishing inilah Dudut berperan lebih untuk menambahkan “soul” kepada setiap produk, karena selain skill bermain kayu, “soul” juga penting untuk menambah nilai dari produk. Untuk pengerjaan satu furniture yang standar biasanya akan memakan waktu kurang lebih satu minggu. 

 

Di antara banyaknya pesanan, Dudut paling menikmati ketika mengerjakan interior cafe. Dalam pembuatan interior cafe, bukan hanya tentang bentuk interior dan furniture nya saja, tapi justru mulai dari konsepnya. Dudut harus mempelajari psikolgis orang-orang yang datang ke cafe tersebut. Misalnya, untuk interior sebuah bar, haruslah dibuat senyaman mungkin agar konsumen terus menerus memesan beer. Sementara untuk coffee shop, dibuat bagaimana caranya seorang konsumen memesan kopi kemudian pergi, atar perputaran pengunjung semakin tinggi. Lokasi tempat duduk, lightning, material, semua pengaplikasian kayu di situ pasti berdasarkan karakteristik pengunjung dan menurut Dudut itu adalah hal yang menantang, ketika kita harus bisa membaca orang.

Kebanyakan pengrajin furniture menggunakan sistem ready stock dalam penjualan produk, sementara semua produk yang dibuat oleh Bengkel Kayu Cikal adalah made by order alias kustom. Setiap produk akan menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Selain itu, Bengkel Kayu Cikal juga selalu menggunakan kayu solid, dibanding dengan pengrajin lain yang sekarang banyak menggunakan material multi dan dilapis HPL.

Konsisten & rajin. Dua hal yang menurut Dudut perlu diterapkan oleh semua crafter dari bidang apapun. Bakat tidak akan cukup tanpa passion yang tinggi terhadap bidang itu, dan passion juga tidak akan berkembang tanpa keinginan untuk terus berusaha mengasah kemampuan. Menurut Dudut, para crafters di Indonesia sudah memiliki “skill” dan “soul” yang gak perlu dipertanyakan lagi. Kita gak cuma mengandalkan tools dan fasilitas, tapi jiwa seni yang pada akhirnya bisa teraplikasikan melalui tangan kita masing-masing.

Di luar kesehariannya sebagai carpenter, Dudut adalah seorang pecinta motor klasik dan merupakan seorang life member Brotherhood sejak tahun 90an. Bersama BMW R26 1957 kesayangannya, Dudut sering riding bersama teman-teman dari Brotherhood lainnya. Dudut juga memiliki kebiasaan untuk mengantar anaknya ke sekolah mengendarai motor ini, dengan menambahkan side-jok dari kayu buatannya khusus untuk anaknya.

Motor dan kayu adalah dua hal yang berbeda namun memiliki korelasi yang tinggi bagi Dudut. Menurut Dudut, dua hal ini sama-sama benda kelas yang butuh kesabaran tinggi, mulai dari perakitan hingga maintenance. Dan yang terpenting, karena keduanya adalah hobi dan passion Dudut, segala kerugian dalam bentuk finansial tidak akan terlalu diperhitungkan dan berpengaruh, karena kepuasan dan kebahagiaan menjadi bayaran yang jauh lebih berharga.