COKLAT RETRO INSIDE : RETROGRADES SLAUGHTERHOUSE

"Kustom harus sepaket dengan soul, kalo gak ada jiwa kustom-nya ya bakal balik lagi ke orisinil” 

Begitulah pendapat Didot, seorang motor builder dengan garage-nya yang berjuluk Retrogrades Slaughterhouse. Retrogrades sendiri memiliki arti garasi, dan “slaughterhouse” berarti rumah jagal, yang maksudnya adalah “memotong” rangka motor sebagaimana bagian dari proses membangun motor itu sendiri. Bengkel ini telah berdiri sejak tahun 2004, berlokasi di Jl. Golf Barat VI no. 1, Arcamanik, Bandung. Menurut Didot, ada yang memang suka memakai motor ada yang suka meng-kustom motor. Pria kelahiran 26 Maret 1982 ini sudah terjun ke dunia motor klasik sejak kelas 5 SD, dan dari dulu memang suka dengan segala sesuatu yang tidak standar, semua seluk beluk permotoran  termasuk “mengoprek” motor Didot geluti. Secara otodidak, Didot terus mendalami ketertarikannya hingga titik ini bisa menjadi builder.

Dalam membangun motor, ada runutan step tersendiri untuk Didot. Pertama, bertatap langsung dengan konsumen untuk saling berbagi referensi, kemudian diskusi bersama untuk menangkap karakteristik konsumen. Pemahaman fungsi juga sangat penting dalam membangun motor, katakanlah motor itu akan digunakan untuk touring, tidak mungkin hard tail. Sebaliknya, bila memang untuk “show off” atau kebutuhan estetis, tidak akan bisa digunakan untuk jarak jauh. Setelah fungsi dan model dasarnya telah disepakati, masuklah ke proses sketching sebagai gambaran garis besar hasil jadi motor tersebut. Tidak lupa juga ada proses fitting. Motor tentunya harus disesuaikan dengan postur tubuh si pemilik. 

Kategori membangun motor sendiri juga ada dua, yang pertama yaitu full built, atau membangun secara keseluruhan dari 0, biasanya konsumen hanya membawa mesin saja. Kedua, yaitu resto/half built, berarti sebagian part motor masih orisinil, entah itu suspensi belakang, frame, dan lain-lain. Parts yang digunakan Didot, mulai dari fork, frame, body shape, dan lain-lain semua merupakan handmade dari Retrogrades Slaughterhouse. Untuk pesanan engine sendiri, Didot biasanya berkolaborasi dengan garage lain yang memang khusus engineering, seperti Secret Motorwork, dan Rust Oration. Begitu pula untuk proses painting / finishing, ada beberapa yang dikerjakan oleh Retrogrades, terkadang Didot juga merekomendasikan bengkel khusus kustom paintwork kepada konsumen. Itung-itung saling berbagi rezeki sesama local builders.

Didot merasa bahwa seorang builder adalah seniman, dan motor-motor bangunan setiap builder adalah karya seni. Kalau bicara tentang seni, tidak akan lepas dari yang namanya “taste”. Setiap builder harus sensitif dengan yang namanya selera, agar setiap garage memiliki ciri khas-nya masing-masing. Ciri khas merupakan hal yang sangat penting karena itu yang membuat sebuah garage dikenal oleh orang lain, dan juga untuk membuat dunia perkustoman ini semakin bervariasi.

Retrogrades Slaughterhouse termasuk garage yang sering mengikuti kompetisi dan eksibisi motor. Di tahun 2008, Retrogrades Slaughterhouse memenangkan Atoland Expo. Kategori best FFA juga pernah diraih oleh Didot di tahun 2012 dengan motornya “Kereta Mesin”, “Teng Wadja”-nya juga membawakan prestasi di kustomfest 2014, dan pada kustomfest 2016 kemarin Didot meraih FFA Second Runner Up dengan “Jono’s Bike”-nya. Untuk eksibisi sendiri, Didot pernah mengikuti Customwar, Sekepalaspal, BBQ Ride, dan lain-lain.

Didot selalu menganggap semua motor bangunannya menarik, karena itulah indahnya dunia kustom. Motor yang dibuat tidak pernah kembar, limited edition, hanya ada 1 di dunia ini. Salah satu trik Didot adalah “un-referencing”, yaitu pola berpikir untuk selalu bisa mengubah atau mengolah referensi yang sudah ada kemudian dirombak ulang menjadi sesuatu yang baru. Kembali lagi ke masalah “ciri khas”, Retrogrades Slaughterhouse sendiri dirasa sudah dikenal banyak orang dan sudah melekat “ciri khas”-nya. Rata-rata konsumen yang datang ke Didot hanya bilang ingin jenis cafe racer, chopper, atau yang lain, dan menyerahkan semua perihal modeling dan detailing kepada Didot. Bisa dibilang ini merupakan hal tersulit bagi Didot. Tidak semua orang mengerti fungsi dan teknis, untuk bisa menerjemahkannya dalam bentuk media adalah tantangan yang Didot nikmati sebagai builder. Didot mengatasinya dengan selalu membuat sketsa sebagai gambaran besar dan ditunjukkan kepada konsumen.

Sebagai local builder, Didot merasakan perbedaan yang signifikan antara builder lokal dan luar negeri. Dari segi alat, Didot mengatakan “Indonesia = sakti, luar = mesin”. Tidak bisa dipungkiri bahwa secara tools dan fasilitas Indonesia memang belum bisa memenangi luar negeri, tapi secara seni, Indonesia bisa lebih. Tidak cuma Bandung, tapi seluruh Indonesia memiliki jiwa seni yang bagus. Dan kalau sudah punya jiwa seni, pasti bisa membuat karya yang kreatif dan outstanding. Secara taste dan soul, Indonesia lebih menang. Di Asia Tenggara pun perkustoman di Indonesia sudah menjadi acuan. Hanya saja, kekurangan yang ada di dunia kustom Indonesia menurut Didot adalah penempatan fungsi yang kurang tepat. Kadang kita mau membangun motor dengan tujuan “show off”, tapi dengan motor standar. Atau ingin motor untuk touring, tapi modifikasi ekstrim. Dengan semakin berkembangnya dunia kustom sekarang, Didot yakin suatu saat Indonesia bisa menandingi kancah mancanegara.

Didot merasa salut dengan generasi baru yang semakin bisa menghidupi dunia kustom di Indonesia sekarang ini. Kalau bicara kustom, pasti beriringan dengan lifestyle. Kalau jaman dulu, orang mengendarai motor gede identik dengan arogansi. Tapi kalau sekarang, dalam kustom Harley saja tidak cukup. Motor biasa pun kalau dikustom pasti punya nilai lebih, dan jiwa kustom dari satu orang bisa meng-influence orang lain juga.