COKLAT RETRO INSIDE : GAUS SIJI

Memiliki kakek yang juga pernah membuka bengkel, dan hobi terhadap motor tua sejak lama, membuat Gaus tidak pernah jauh dari dunia kustom. Dari kuliah hobi bermain trail dan gelut mengulik mekanik. Pria kelahiran 29 April 1975 asal Gombong, Kebumen ini pertama kali membuka bengkel khusus motorcycle building pada tahun 2004 di kontrakannya di daerah Dago, Bandung, hingga tahun 2008 sampai sekarang “Gaus Siji” berlokasi di pertigaan Dago Giri. Walaupun basic akademisnya ekonomi dan tidak punya dasar ilmu mesin, kalau yang namanya passion pasti ada jalan. Semua Gaus pelajari secara otodidak dan dari orang lain yang lebih dulu terjun di bidang motor building.

Dalam membangun motor, Gaus pasti mengawali dengan mendengarkan keinginan konsumen, dan gak lupa harus disesuaikan dengan fungsi. Kebutuhan untuk sehari-hari di dalam kota pasti berbeda dengan kebutuhan untuk off-road atau long trip. Karakteristik konsumen juga tentunya berpengaruh dengan model dan tampilan motor nantinya. Setelah proses sharing itu, Gaus akan memberi rekomendasi dan konsep yang paling sesuai. Dari situ barulah bisa dibuat perkiraan harga dan waktu pengerjaan. Untuk pengerjaan sendiri, mayoritas Gaus mengerjakannya seorang. Kadang ia dibantu oleh satu orang rekan, tapi tidak menentu. Waktu pengerjaan satu motor bisa memakan waktu 2-3 bulan saat dikerjakan berdua, sementara saat hanya Gaus yang mengerjakan bisa memakan waktu minimal 3 bulan. Terkadang stok part yang harus dipesan dulu juga mempengaruhi lamanya pembangunan motor.

Sebagai builder, tantangan terberat bagi Gaus bukan masalah teknis, tapi justru bagaimana menjaga hubungan baik dengan konsumen. Mulai dari obrolan, waktu, dan yang terpenting adalah kepercayaan. 90% konsumen Gaus berasal dari orang-orang yang sudah dikenal, yang merekomendasikan Gaus ke braders lainnya. Hanya 10% konsumen yang benar-benar tahu Gaus tanpa perantara. Itulah kenapa Gaus sangat menjaga baik hubungan dengan setiap orang, baik konsumen atau yang sekedar ingin konsultasi. Bisa dibilang menitipkan motor yang secara materi tidak murah ini pasti butuh kepercayaan besar terhadap builder. Proses sharing juga akan lebih enak untuk membangun motor bila telah ada koneksi yang terjadi antara builder dan konsumen. Tanpa kepercayaan, motor yang dibangun juga gak akan maksimal. 

Gaus selalu membangun semua motor layaknya milik sendiri, kemudian ia test-drive dan kadang juga meminta orang lain untuk mencoba motor hasil rakitannya. Kalau ditanya motor bangunan kebanggaannya yang mana, Gaus akan sulit menjawab karena menurut dia yang bisa menilai itu orang lain, dan terutama yang punyanya. Kalau soal motor kesayangan, Gaus akan menjawab CB 100 yang sekarang sudah tidak dia pakai lagi, menghiasi ruangan di rumahnya. CB yang dulu paling sering menemani Gaus riding, bahkan Gaus pernah kecelakaan saat mengendarai motor ini. Tapi justru cerita dan nilai sejarah inilah yang membuat motor ini semakin berharga.

Di luar kesehariannya sebagai builder, Gaus juga masih hobi riding dengan teman-temannya. Justru Gaus merasa sebagai builder yang setiap menitnya bersentuhan dengan motor, hampir tidak pernah ada waktu untuk riding. Setiap ada kesempatan untuk riding bersama menjadi sangat berarti untuk Gaus merehatkan dirinya sejenak dari rutinitas. Bisa dibilang nostalgia juga, dari dulu Gaus memang sering riding bersama teman-temannya. Sekarang dengan kesibukan masing-masing, memang tidak pernah sesering dulu tapi selalu berusaha untuk menyempatkan waktu. That’s it brads, whatever you do, don’t forget to have fun because you deserve it!

Ada cerita menarik juga nih dibalik logo Gaus Siji. Ikon obeng dan palu digunakan karena sebelum punya kunci-kunci alat awal untuk membuka baut dan mur, Gaus hanya menggunakan obeng/pahat dan paku untuk bisa membongkar motor sampai ke mesin. Logo ini juga mengadaptasi tokoh Wayang Semar dari Pandawa Lima. Gaus sangat menyukai Wayang Semar, dinding garage-nya juga dihiasi oleh wayang-wayang. Sosok Semar adalah sosok yang dituakan, bisa mengayomi, dan memberi petunjuk. Mengingatkan Gaus pada sosok bapaknya yang ia kagumi. Dan sebagai builder pun Gaus berharap bisa menjadi orang nomer "siji" yang memberi arahan dan mewujudkan motor-motor sesuai keinginan konsumen. Gaus is one local crafter who appreciates local wisdom! 

Gaus juga mau berbagi tentang tips & trick buat braders semua yang ingin jadi builder. Nomer satu ialah disiplin, minimal dalam waktu datang ke bengkel. Kedisiplinan akan membantu kita untuk konsisten dengan apa yang kita kerjakan. Kedua yaitu asah terus kreativitas. Bicara tentang meng-kustom motor, pasti harus selalu mencari hal yang baru, dan yang namanya konsumen pasti ingin motornya “lain dari yang lain”. Mengasah kreativitas tentu bisa dilakukan dengan mencontoh yang sudah ada. Semua juga pasti begitu, menyerap dari hal-hal yang sudah duluan ada, dari basic-nya, nah yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana kita mengembangkan hal-hal dasar tadi menjadi sesuatu yang baru. Last but not least, jaga hubungan baik dengan semua orang. Konsumen adalah kunci utama bila ingin bertahan di dunia ini, because motorcycle is not only built by hands, but also by trust and passion.

Gaus yang udah lama terjun di dunia kustom ini melihat potensi kreatif sekarang berkembang sangat pesat, hampir disemua kota. Informasi dan fasilitas udah serba mudah, tinggal kita yang ngembanginnya brads!