COKLAT RETRO PEOPLE : UYUNG ARIA

Siapa yang tidak kenal dengan Uyung Aria? Sosok panutan asal Tasik ini sudah menggeluti dunia kustom kulture sejak lama, dan termasuk salah seorang yang menghidupi scene ini. Pria kelahiran Tasikmalaya, 31 Oktober 1973 ini memiliki latar belakang pendidikan D3 di UNPAD PAAP, dan melanjutkan S1 di STISIP Tasikmalaya. Awal mula Uyung memasuki dunia kustum pada saat ia masih duduk di bangku SMP dan hobi bermain BMX dan saat SMA gemar mengikuti road race Dari situ jiwa “kustom”-nya telah muncul, Uyung mulai mencoba memodifikasi motornya. Dari situ pula kegemarannya terhadap motor klasik muncul. Bermain motocross juga pernah Uyung alami.

Pada tahun 90an, motor pertama yang dimodif oleh Uyung adalah Chopper BMW R25. Di jaman itu, memodifikasi motor tidaklah semudah sekarang di mana semua informasi sudah bisa didapatkan dari berbagai sumber. Orang-orang yang memiliki hobi sama juga tidak semembeludak sekarang. Referensi dan informasi hanya bisa didapatkan dari majalah. Tapi itu tidak mematahkan semangat Uyung untuk belajar meng-kustom motor. Justru semakin minimnya informasi, ia semakin termotivasi untuk mengulik sendiri, menikmati setiap proses trial & error-nya. Pada masa perkuliahannya di Bandung pada tahun 1992, Uyung bertemu dan mulai menjalin pertemanan dengan member-member Brotherhood. Dari situ Uyung sering mendatangi event-event motor dan mobil klasik, dan semakin termotivasi untuk terjun lebih dalam ke dunia ini. Uyung juga sempat mengoleksi beberapa mobil klasik seperti taxi beatles, vw kodok yang di-chop atasnya, dan lain-lain. Pada tahun 2006 Uyung pun bergabung dengan Brotherhood.

Meskipun tidak banyak orang yang memiliki interest sama pada saat itu, tapi Uyung sangat merasakan tali persaudaraan di antara satu-sama lain. “sense of belonging” terhadap sesama pecinta motor dan mobil klasik sangat tinggi. Gak perlu takut kalau mogok di jalan, pasti sesama penggemar motor dan mobil klasik akan langsung membantu tanpa pandang bulu. Berawal mogok berbuah kawan baru. Di jaman sekarang, Uyung melihat bahwa orang-orang semakin banyak yang ingin tampil beda dan keluar dari jalur “apa adanya”. Orang-orang yang terbilang mapan pun tergoda dengan “kebebasan” yang ditawarkan oleh kustom kulture, bahwa yang namanya kendaraan tidak melulu harus sesuai dengan keluaran pabrik, atau yang namanya mobil dan motor klasik pasti punya lebih banyak cerita.

Secara keseluruhan, Uyung memandang perkembangan dunia kustom di Indonesia sangatlah pesat. Bukan hanya lifestyle-nya yang menarik mata Uyung mengenai dunia kustom di Inonesia, tapi juga potensi dari para sumber daya manusianya. Crafters dan builders di Indonesia bisa dibilang sangat kreatif dengan skill yang hebat. Budaya “ngulik” memang sudah mendarah daging dalam diri crafters lokal. Bahkan di Asia Tenggara, Indonesia menjadi parameter kustom kulture. Tidak sedikit pula builders-builders lokal yang namanya mencapai mancanegara. Ditambah lagi dengan bahan baku yang sudah dimiliki semua oleh Indonesia. Kalau diasah dengan optimal, potensi kreatif dari local crafters kita tidak akan ada bandingannya.

Di samping kecintaannya terhadap dunia kustom, Uyung juga terkenal sebagai tokoh kreatif Tasikmalaya. Dia selalu aktif mengumpulkan komunitas-komunitas dan membuat acara bersama. Inisiatif ini tidak melulu berbentuk acara-acara besar, Uyung pernah mengumpulkan komunitas dengan membuat gerakan pungut sampah di kota Tasik. Dari situ anak muda di Tasik saling bertemu dan berkenalan, yang membuat hubungan antar-komunitas menjadi erat dan lebih mudah untuk melakukan aktivitas bersama-sama lainnya. Uyung juga sangat semangat dalam menghidupkan kembali heritage lokal yang hampir punah. Pada Coklat Retro Coffee Braaake 2016 di Tasik untuk pertama kalinya, Uyung memutar film pendek dengan judul “Finding Sukapura”, film dokumenter yang mengangkat jembatan Sukapura dan diambil dari sudut pandang seorang biker-traveler. 

Aksi menggambar Payung Geulis Tasik dan mengundang Mak Iyah di Coklat Retro Meet Up Tasik 2016 merupakan usulan dari Uyung, pula motor Norton yang dilukis oleh Mak Iyah dan Fahmi Freeflow merupakan kepunyaan Uyung. Eksistensi dari Payung Geulis sebagai ikon Tasik  sangat menurun, bahkan Mak Iyah yang berumur 71 tahun ini belum memiliki penerus untuk diturunkan ilmunya mengenai pembuatan Payung Geulis. Hal inilah yang membuat Uyung terdorong untuk menyorot lebih dalam budaya Tasik yang satu ini agar tidak punah. Pada Coklat Retro Coffee Braaake Tasik 2017 pun aksi ini dilanjutkan dengan menghadirkan Pohon Payung Geulis dan kembali mengundang Mak Iyah, dan tentunya Uyung ada di dalam setiap prosesnya.

Sekarang ini memang masanya selebrasi bagi para pecinta motor dan mobil kustom, dunia kustom memang sedang jadi sorotan semua orang, tapi Uyung berharap kepada semua pelaku kreatif dan pecinta kustom di Indonesia untuk tidak melupakan roots kita sebagai warga Indonesia. Nilai dan esensi yang kita miliki sangat kuat mulai dari sisi kekeluargaan dan persaudaraannya, hal itulah yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tidak masalah motor apapun dan keluaran negara manapun yang kita kendarai, tapi attitude harus tetap mencerminkan diri kita sebagai orang Indonesia. 

“Motor boleh Inggris, attitude tetap Indonesia!” - Uyung Aria