COKLAT RETRO PEOPLE : DODI NURSAIMAN

Lahir di Bandung pada tanggal 7 Mei 1977, Dodi Nursaiman memiliki latar belakang pendidikan S1 DKV di Unikom Bandung dan S2 Magister Desain di ITB. Dodi memperdalam ilmunya di bidang tipografi, kajian tugas akhir S1 dan S2-nya mengangkat salah satu local culture yang ada di Bandung, yaitu bahasa Sunda. Ia mempublikasikan kata-kata khas yang tidak ada pada kamus lain seperti “koplok”, yang kemudian ia aplikasikan pada media merchandise seperti kaos. Proyek ini pun masih berjalan hingga sekarang. Dodi juga merupakan seorang dosen jurusan DKV di Universitas Pasundan Bandung. Di luar waktunya sebagai dosen, Dodi memiliki program yang bernama “Atap Class”, di mana dia dan rekannya keliling ke universitas-universitas yang ada di Indonesia dan berbagi ilmu mengenai dunia desain grafis. Atap Class ini dilakukan sepanjang tahun 2015 kemarin dan berhasil bersinggah ke 23 universitas dari Padang sampai Gorontalo. 1 November 2016 kemarin Dodi membangun studio di Hegarmanah Bandung yang bernama Studodio Creative Works, studio yang memfokuskan pada bidang tipografi, ilustrasi, 3D hologram, dan sculpting. Sekarang  ini Dodi juga sedang dalam proses mempersiapkan diri menuju International Typography Conference di Canada 2017 mendatang.

 

Meskipun bukan seorang penggiat motor dan mobil klasik, Dodi memiliki hubungan yang erat dengan lifestyle kustom kulture. Banyak teman dan koneksi di lingkungan tersebut dan seringkali melakukan kolaborasi. Dodi sering menggambar pada media seperti jaket dan tangki motor dan membantu teman-temannya untuk menunjukkan identitas mereka melalui kendaraannya. Dodi juga sering nongkrong bareng dan berbincang-bincang mengenai kustom kulture bersama para pecinta lifestyle motor dan mobil tua. Sebagai seseorang yang telah lama menggeluti desain grafis dan pemerhati kustom kulture, Dodi melihat sebenarnya kedua bidang ini memiliki ikatan yang sangat kuat. Dalam dunia kustom, karakter dan ciri khas merupakan salah satu hal yang paling utama. Begitu pula dengan desain grafis yang menggunakan visual sebagai penyampai pesan dan media ekspresi. Tapi sayangnya menurut Dodi, di Indonesia belum ada universitas yang memberikan pendidikan secara spesifik mengenai DKV mengenai industri pekerjaannya. Padahal, ranah pekerjaan DKV bisa sangat banyak bila kita telaah, salah satunya tentu lifestyle kustom ini. Terlebih lagi melihat perkembangan kustom kulture di Bandung yang sedang meningkat pesat, seharusnya bisa menjadi potensi bagi para desainer grafis untuk terjun dan berkarya di dunia ini dengan media dan gaya visual yang bermacam-macam. Dodi melihat apabila desain grafis dan kustom kulture bisa berjalan beriringan, akan menjadi suatu lifestyle tersendiri yang kuat karakteristiknya.

 

Memang benar, Brads! Kustom Kulture tidak pernah jauh dari yang namanya desain grafis karena keduanya merupakan media kita untuk menunjukkan karakteristik kita. Karena itu Dodi berharap semoga desain grafis dan kustom kulture bisa menjadi pendukung satu sama lain untuk berkembang di Indonesia ini. Dodi juga berharap semoga sinergi yang tercipta antara generasi lama dan baru tetap terjaga untuk bersama-sama menghidupkan kultur ini. Dan untuk para braders-braders yang menggeluti dunia grafis, ayo kita keluar dari zona nyaman! Mari kita mulai berkreasi di media-media yang tidak biasa dengan cara kita masing-masing. Pasti akan ada kepuasan dan keseruan tersendiri ketika kita bisa berkarya sesuai dengan passion kita yang sesungguhnya. Everyday is our canvas and everything we do is a piece of artwork! So, gear up Brads!